Bacaan Hari Ini:
"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."
Yohanes 19:30
Real Talk: Bukti Cinta yang Berdarah
Kalau kita boleh jujur, di usia remajamu saat ini, salah satu hal yang paling sering kamu ragukan adalah rasa cintamu sendiri. Saat kamu merasa gagal, tidak pintar, atau sering mengecewakan orang tua, kamu mulai berpikir: "Siapa sih yang beneran sayang sama aku? Kalau orang-orang tahu sifat asliku, atau isi pikiranku yang sebenarnya, apa mereka masih mau temenan sama aku?"
Kita sering mengukur seberapa besar kita dicintai dari seberapa banyak orang yang like foto kita, membalas chat kita dengan cepat, atau memberi kita hadiah. Tapi jauh di lubuk hati, kita tahu cinta dari manusia itu bersyarat. Begitu kita berbuat salah, cinta itu bisa ditarik kembali. Karena itu, saat mendengar kalimat "Tuhan Yesus mengasihimu", kadang itu cuma terdengar seperti teori kosong di Sekolah Minggu.
Tapi cobalah menatap ke arah salib hari ini. Salib bukanlah pajangan dinding yang cantik. Salib adalah tempat eksekusi paling mengerikan. Di sana, seorang Raja rela diludahi, dicambuk sampai punggung-Nya hancur, dan dipaku hidup-hidup. Kenapa? Karena Dia melihat dari atas surga bahwa kamu tidak akan pernah bisa menyelamatkan dirimu sendiri dari hukuman dosa.
The Truth: Dia Mengambil Titik Akhirmu
Pernahkah kamu berpikir, kenapa kata-kata terakhir Yesus di kayu salib adalah "Sudah selesai"?
Dia tidak sedang berkata, "Akhirnya penderitaan-Ku selesai." Kata aslinya dalam bahasa Yunani adalah Tetelestai, yang merupakan istilah bisnis yang berarti: "Hutangmu sudah dibayar lunas." Di momen Jumat Agung itu, Yesus mengambil semua rasa malu yang seharusnya kamu tanggung. Dia mengambil semua rasa "kotor", semua kegagalan, dan semua penolakan yang membuatmu ingin menyerah. Dia membiarkan tubuh-Nya dihancurkan, supaya kamu tidak perlu menghancurkan dirimu sendiri. Dia membiarkan diri-Nya ditinggalkan oleh Bapa di atas kayu salib, supaya kamu tidak akan pernah ditinggalkan sendirian di kamar saat kamu sedang menangis.
Saat Yesus berkata "Sudah selesai", Dia sedang menutup babak lama kehidupanmu yang penuh dosa dan hukuman. Dia mengambil titik akhir (kematian) yang seharusnya menjadi milikmu, supaya dalam hidupmu, Tuhan bisa menaruh koma sebuah kesempatan untuk memulai babak baru yang penuh harapan. Jumat Agung adalah bukti paling brutal, berdarah, sekaligus paling indah bahwa Penciptamu memilih untuk mati daripada harus hidup tanpa dirimu.
💌 Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, hari ini tataplah kayu salib itu. Lihatlah apa yang rela Ku-lakukan untuk mendapatkan hatimu kembali.
Terkadang kamu menangis dan bertanya apakah kamu berharga. Terkadang kamu merasa hidupmu tidak ada artinya. Jika pikiran itu datang lagi, ingatlah paku yang menembus tangan Anak-Ku. Ingatlah mahkota duri di kepala-Nya. Semua luka itu adalah jawaban-Ku untukmu. Kamu sangat berharga. Kamu sangat pantas untuk diperjuangkan.
Tolong, jangan sia-siakan pengorbanan yang sudah Ku-berikan dengan terus membenci dirimu sendiri atau kembali pada dosa yang sudah Ku-tebus dengan darah. Hutangmu sudah lunas. Keluarlah dari penjara masa lalumu, karena pintu penjaranya sudah Ku-dobrak hancur dari kayu salib itu."
🔥 Langkah Kecil Hari Ini
1. Ambil Waktu Hening 5 Menit: Hari ini, matikan musik dan HP-mu sebentar. Duduklah dalam diam. Bayangkan rasa sakit yang Yesus lewati, dan katakan dalam hati: "Dia melakukan semua itu karena Dia memikirkanku."
2. Berhenti Menghukum Diri Sendiri: Pengorbanan Yesus sudah sempurna. Jika kamu terus menyalahkan diri sendiri atas masa lalumu, kamu seolah sedang berkata bahwa darah Yesus tidak cukup untuk menebusmu. Terimalah pengampunan itu hari ini.
3. Tulis Ucapan Terima Kasih: Ambil selembar kertas atau buka notes di HP-mu. Tuliskan satu kalimat ucapan syukur yang paling jujur dari hatimu untuk Yesus yang rela menggantikan posisimu di kayu salib.
🙏 Doa:
Tuhan Yesus, hari ini aku melihat salib-Mu dan aku kehabisan kata-kata. Aku yang berdosa, aku yang sering memberontak, tapi Engkau yang rela dipaku dan hancur. Terima kasih karena Engkau tidak menyerah kepadaku. Terima kasih untuk kasih yang begitu gila dan tidak masuk akal ini. Saat Engkau berkata 'Sudah selesai', ajar aku untuk percaya bahwa pengampunanku sudah tuntas. Biarlah pengorbanan-Mu di Jumat Agung ini benar-benar mengubah cara aku menghargai hidupku. Amin.