Bacaan Hari Ini:
"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."
Galatia 1:10
Real Talk: Obral Harga Diri Demi FYP
Coba cek kembali akun media sosialmu. Berapa banyak hal yang kamu posting atau kamu lakukan murni karena kamu menyukainya, dan berapa banyak yang kamu lakukan hanya supaya kamu diakui oleh orang lain?
Di zaman ini, validasi (pengakuan) terasa seperti oksigen. Kita merasa tidak hidup kalau tidak ada yang nge-like atau ngasih komentar pujian. Demi bisa masuk ke circle pergaulan anak-anak "hits", demi mengejar views yang tinggi, atau supaya dibilang keren, kamu rela mengorbankan prinsipmu.
Mungkin kamu mulai ikut-ikutan menertawakan orang lain, memakai pakaian yang terlalu terbuka untuk menarik perhatian, atau membuat konten menari yang sebenarnya membuatmu canggung dan merendahkan martabatmu. Kamu menekan tombol upload, berharap notifikasi hatimu berbunyi terus. Tapi sadarkah kamu? Setiap kali kamu membuang batasan kemurnian dan prinsipmu hanya demi tepuk tangan manusia, kamu sedang menaruh dirimu di keranjang barang obral. Kamu menjual sesuatu yang sangat mahal dengan harga diskon yang sangat murah: sekadar likes yang tidak akan pernah menyelamatkan jiwamu.
Dan hal yang paling menyedihkan adalah: Setelah semua pujian dan notifikasi itu berhenti berbunyi, di dalam kamar yang sepi, hatimu tetap merasa kosong dan tidak berharga.
The Truth: Kamu Terlalu Mahal untuk Dijual Murah
Rasul Paulus memberikan pertanyaan yang sangat menampar: "Siapa yang sebenarnya sedang kamu coba senangkan? Tuhan atau manusia?"
Kalau kamu hidup untuk pujian manusia, kamu akan mati oleh kritikan manusia. Manusia itu sangat mudah berubah. Hari ini mereka memujimu dan menerimamu di circle mereka, besok saat kamu melakukan satu kesalahan kecil, mereka orang pertama yang akan meninggalkan dan menghujatmu (seperti yang kita bahas di pengadilan layar kaca).
Dengarkan ini: Penerimaan dari dunia itu bersyarat, tapi penerimaan Tuhan itu mutlak. Tuhan sudah memvalidasimu di atas kayu salib. Label hargamu adalah nyawa Anak Allah sendiri. Kamu tidak perlu melucuti prinsipmu, merendahkan kekudusanmu, atau berpura-pura menjadi orang lain hanya supaya dunia menganggapmu ada. Orang yang benar-benar tahu seberapa mahal harga dirinya tidak akan pernah mengemis pujian dari manusia yang murahan. Bapa belum selesai merangkai hidupmu menjadi sebuah kesaksian yang kuat; jangan biarkan algoritma media sosial merusaknya.
💌 Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, kenapa kamu terus-menerus mengemis cinta dari dunia yang bahkan tidak mempedulikan jiwamu?
Hatiku hancur melihatmu rela mengubah dirimu, melepas pakaian kehormatanmu, dan mengabaikan kebenaran-Ku hanya supaya kamu diterima oleh teman-temanmu. Nak, tepuk tangan mereka tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan di hatimu.
Kamu sangat mahal di mata-Ku. Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi viral, Aku hanya memintamu untuk menjadi setia. Berhentilah memakai topeng demi menyenangkan orang lain. Kembalilah pada-Ku. Aku sudah menyetujuimu, menerima engkau, dan mengasihimu jauh sebelum kamu bisa mengumpulkan satu pun likes di dunia ini."
🔥 Langkah Kecil Hari Ini
1. Filter Niat Sebelum Posting: Hari ini, sebelum kamu menekan tombol kirim atau upload apapun, tanyakan di dalam hati: "Aku nge-post ini supaya orang lihat aku hebat/seksi/keren, atau murni untuk hal yang baik?" Kalau niatnya mencari validasi murahan, batalkan.
2. Berani Keluar dari Circle Toxic: Kalau kamu punya circle pergaulan yang mengharuskanmu melanggar firman Tuhan atau merendahkan harga dirimu supaya bisa diterima, beranikan diri untuk menjauh dari mereka hari ini.
3. Hapus "Jejak" Diskon: Coba lihat kembali feed media sosialmu. Hapus postingan-postingan yang sebenarnya merendahkan nilai dirimu dan tidak mencerminkan identitasmu sebagai anak Tuhan.
🙏 Doa:
Bapa, ampuni aku karena selama ini aku menjadikan pendapat manusia sebagai tuhanku. Aku terlalu sibuk mencari pengakuan sampai aku rela merendahkan nilai diriku dan melupakan perintah-Mu. Mulai hari ini, aku mau bertobat. Ingatkan aku bahwa aku sudah diterima dan dikasihi oleh-Mu, sehingga aku tidak perlu lagi mengemis validasi dari dunia. Berikan aku keberanian untuk hidup menyenangkan-Mu, bukan menyenangkan manusia. Amin.